Bolehkah Berhutang untuk Aqiqah?

Bolehkah Berhutang untuk Aqiqah?

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahlan wa sahlan ustadz ana Abu fathimah.

Mau nanya: Bolehkah jika kami mengaqiqahi anak kita, bersama membeli kambingnya pake duit utang?
Dengan maksud bahwa utang berikut dapat segera dibayarkan (2 s/d 5 bulan insya allah). Minta jawaban ustadz. Jazakallahu khoiran.

Wassalamu’alaikumwarahmatullahi wa barakatuh.

(Abu Fathimah)

Jawab:

Seorang muslim dituntut untuk menghidupkan sunnah-sunah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aqiqah hukumnya sunnah muakkadah dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat, dan hendaknya orang yang memiliki kapabilitas melaksanakan sunnah ini.

Adapun orang yang belum mampu kala itu maka jika dia memiliki sumber penghasilan yang dia menghendaki mampu membayar hutang dengannya di lantas hari maka tidak mengapa dia berhutang

Imam Ahmad rahimahullahu berkata: metode aqiqah

إذا لم يكن عنده ما يعق فاستقرض رجوت أن يخلف الله عليه إحياء سنة

“Kalau dia tidak memiliki harta untuk aqiqah lantas berhutang maka aku menghendaki Allah menggantinya karena dia udah menghidupkan sunnah.” (Al-Mughny, Ibnu Qudamah 13/395)

Namun jika tidak memiliki penghasilan selamanya maka jangan dia berhutang karena nanti dapat memudharati dia dan orang yang menghutanginya. (Lihat Kasysyaf Al-Qina’ ‘an Matnil Iqna’, Manshur bin Yunus Al-Bahuti 2/353)

Allah ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ)(التغابن: من الآية16)

“Bertaqwalah kepada Allah cocok bersama kapabilitas kalian.” Jasa aqiqah Jakarta dan Bekasi

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:

وأما الاستقراض من أجل العقيقة فينظر، إذا كان يرجو الوفاء كرجل موظف، لكنه صادف وقت العقيقة أنه ليس عنده دراهم، فاستقرض من شخص حتى يأتي الراتب، فهذا لا بأس به، وأما إذا كان ليس له مصدر يرجو الوفاء منه، فهذا لا ينبغي له أن يستقرض

“Dan adapun meminjam duit untuk kepentingan aqiqah maka dilihat, jika dia menghendaki mampu mengembalikan layaknya seorang pegawai misalnya, dapat namun saat kala aqiqah dia tidak memiliki uang, lantas dia meminjam duit hingga berkunjung gaji maka ini tidak mengapa, adapun orang yang tidak memiliki sumber penghasilan selamanya yang dia menghendaki mampu membayar hutang dengannya maka tidak harusnya dia berhutang.” (Liqa Al-Babil Maftuh, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *